Di antara permohonan maaf Indonesia dan kekesalan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) terhadap kekacauan penyokong dalam perlawanan Indonesia-Malaysia di Gelora Bung Karno, Khamis lalu, Polis Daerah (Polda) Metro Jaya, Jakarta Selatan tampil menafikan berlakunya sebarang rusuhan.

"Enggak ada (kerusuhan suporter bola di GBK), hanya lempar-lempar air saja," kata Kepala Bidang Humas (Perhubungan Awam) Polda Metro Jaya, Kombes (Komisaris Besar) Argo Yuwono, seperti dilaporkan oleh KOMPAS.com.

Argo juga membantah adanya suporter Indonesia yang ditenteramkan atau anggota polis yang tercedera kerana kekecohan penonton itu didakwanya tidak wujud.

"Enggak ada (suporter yang diamankan atau polisi yang terluka)," ujarnya sebagai menolak apa yang terang-terang ditonton ramai hingga mendorong pengadil, Ko Hyungjin dari Korea Selatan, turut terpaksa memberhentikan permainan selama kira-kira lapan minit dari minit ke-70 ketika kedudukan masih terikat 2-2.



Ia seolah-olah membuat permohonan maaf Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia, Imam Nahrawi, susulan kejadian kekacauan penonton itu seperti tidak ikhlas.

Oleh kerana kenyataan itu dibuat seorang pegawai tertinggi polis Jakarta, maka ia hendaklah diterima. Bukankah begitu?

Namun, gambaran yang diberikannya dengan sendirinya disangkal Setiausaha Agung PSSI, Ratu Tisha Destria (foto di bawah), yang mengakui Indonesia kini menghadapi risiko bertemu Thailand di stadium yang sama Selasa ini tanpa penonton.



Menurutnya, Indonesia berdepan hukuman itu daripada Persekutuan Bolasepak Antarabangsa (FIFA) kerana “faktor kerusuhan yang terjadi saat laga Indonesia melawan Malaysia di SUGBK, Khamis lalu”.

"Bukan saatnya kami khawatir ada atau tidaknya penonton, sekarang saatnya kami semua merefleksikan diri. Kami punya pertandingan pada 10 September, ayo optimistis menyongsong dan mendukung itu.

"Kami harus doakan dan melakukan hal-hal positif. Kalau kami salah, kami harus terima. Kami harus tunjukan kepada dunia, kalau kita bisa," tambahnya seperti dipetik oleh BOLASPORT.COM.

Apapun percubaan Indonesia untuk memperkecil-kecilkan insiden tiga hari lalu itu, ia dipertegaskan pula oleh legenda skuad Garuda, Dede Sulaiman (foto di bawah, kanan), yang dipetik laman yang sama sebagai menyimpulkan Indonesia kalah segala-galanya kepada Harimau Malaya.



"Kerusuhan suporter akibat kecewa dari buruknya permainan timnas (tim nasional) Indonesia," kata bekas pemain berusia 62 tahun itu yang turut berada di stadium menyaksikan Malaysia meraih kemenangan 3-2.

"Itu tidak seperti apa yang diharapkan fan, yang begitu semangat, dengan harapan timnas Indonesia menang.”

Mantan pemain Persija Jakarta itu enggan berselindung bahawa Indonesia hanya bermain bagus dalam babak pertama, khususnya selama 20 minit, yang menyaksikan tuan rumah itu mendahului 2-1 menerusi gol Alberto Goncalves (m-12, 39).

Permainan Indonesia, sambungnya, sangat berbeza dalam babak kedua, dengan pelawat lebih aktif melancarkan serangan untuk menambah dua gol melalui Syafiq Ahmad (m-66) dan Mohamadou Sumareh (m-90+7) bagi memuktamadkan kemenangan 3-2.



"Timnas Indonesia hanya mampu bermain 20 minit di babak pertama saja sehingga mampu mencetak dua gol ke gawang Malaysia. Selebihnya selama 70 minit ke depan, Malaysia mengendalikan permainan. Sehingga, mereka dapat membalikkan skor menjadi 3-2 untuk kemenangan Malaysia," katanya.

Dede Sulaiman menambah skil individu, kerjasama sepasukan, organisasi permainan, ketenangan, percaya diri, kekuatan, kelincahan, dan kecepatan Malaysia lebih unggul daripada Indonesia.

“Konsentrasi pemain timnas Indonesia pecah, itu tidak dirasakan tim Harimau Malaya. Pelatih Malaysia, Tan Cheng Hoe, juga lebih unggul dan cerdas dalam strategi permainan jika dibandingkan dengan Simon McMenemy.

"Kerusuhan suporter akibat kecewa dari buruknya permainan timnas Indonesia," kata Dede lagi – cukup untuk menepis ‘wayang’ Kombes Argo Yuwono (foto di bawah).



Kredit foto: Bolasport.com dan Kompas.com